Jumat, 18 Desember 2009

‘Sistem Bisnis’ Program Reseller Indonesia dan Keuntungannya

Bila Anda sampai detik ini belum menemukan ide yang pas untuk Anda jadikan sebagai bisnis, maka program reseller Indonesia patut Anda kedepankan untuk Anda jadikan lahan mencari penghasilan di internet.

Sebelum melangkah lebih jauh….alangkah baiknya jika kita mencari tahu tentang apa sebenarnya program reseller itu, bagaimana cara kerjanya, menguntungkankah ?

Itulah sekelumit pertanyaan yang mungkin mengganjal di benak sebagian dari Anda.

Program reseller adalah program yang menawarkan penghasilan dengan cara bagi hasil antara dua belah pihak yakni pemilik produk (owner) dan pemasar produk itu sendiri (reseller).

Sebelum Anda bisa bekerja sama dengan pemilik produk, Anda di haruskan membeli produk si owner tersebut, baru kemudian Anda bisa menjualkannya kembali dengan sistem reseller.

Sedang yang di maksud program reseller Indonesia adalah bisnis atau program yang kerjasamnya dengan pemilik produk dari Indonesia.

Apa saja keuntungan menjalankan program reseller Indonesia ini ?

# Tidak Perlu Repot dengan Urusan Teknis Produk

Program reseller ini sangat fleksibel untuk Anda jalankan. Bagaimana tidak, tanpa mempunyai produkpun Anda tetap berpeluang menghasilkan profit yang besar.

Fokus utama Anda dalam program reseller ini adalah pada pemasarannya saja, sedang urusan teknis seperti biaya pengiriman, penulisan sales letter dan sebagainya, semua biar admin yang mengurus.

# Pembayaran yang Mudah

Keuntungan lain dalam program reseller Indonesia ini adalah kemudahannya dalam melakukan setiap transaksi.

Jika mengikuti program reseller luar negeri Anda terkendala dengan kartu kredit maupun pay pal yang masih belum terverifikasi, maka di program reseller Indonesia cukup memiliki bank lokal yang langsung bisa Anda cairkan kapan saja.

# Tidak Perlu Bingung dengan Bahasa Inggris

Biasanya sebagian reseller banyak yang bingung dengan kendala bahasa ini terutama ketika mereka main di pasar luar.

Disini masalah tersebut bisa terartasi karena memang bisnis di negeri sendiri, maka kemampuan bahasa Inggris tidak mutlak diperlukan disini.

# Modal Ringan Bahkan Bisa Gratis

Untuk menjalankan program reseller ini modal yang di butuhkan cukup ringan, cukup pilih yang sesuai dengan kantong, maka Anda sudah bisa berbisnis.

Bahkan bisa tanpa modal sama sekali alias gratis yang penting Anda tahu cara menjualnya. Misalkan harga produk reseller Anda 200.000, dan Anda mendapat 50% atau 100.000 setiap penjualan, maka dalam 3 x penjualan saja Anda sudah balik modal, bukankah itu gratis ?

Masak hanya menjual ke 3 orang saja tidak bisa, saya yakin Anda bisa melakukannya.

# Komisi yang Tidak Kalah Menarik

Sebagian marketer banyak yang terjebak dengan ikut-ikutan bisnis internet di pasar luar karena di iming-iming dengan bayaran dollar, padahal di Indonesia sendiri komisi reseller tidak kalah menariknya di banding pasar luar.

Bayangkan saja, seperti memasarkan produk rahasia blogging bapak Joko Susilo saja jika Anda menjual ke satu orang saja, maka Anda mendapat 125.000 rupiah, atau punya mas Nicko Martantyo Thegeniusbiz sekali penjualan mendapat kurang lebih 80.000 rupiah dengan 2 level, dimana setiap member yang Anda sponsori juga mampu menjual seperti yang Anda lakukan, Andapun juga ikut kecipratan komisinya.

Misalkan saja, Anda memasarkan produk yang komisinya 100.000 per penjualan, maka jika Anda mampu menjual ke 10 orang saja Anda mendapat 1 juta, jika lebih dari itu, tinggal kalikan saja. Namun apapun program resller yang Anda jalankan, satu hal yang perlu Anda perhatikan, yakni temukan kunci marketing-nya.

Bagaimana, menarik bukan ?

Nah, itulah beberapa keuntungan menjalankan program reseller Indonesia, masih banyak sebenarnya keuntungan-keuntungan serta kemudahan yang akan Anda dapat.

So, Anda sendiri bagaimana ?

Archive for the ‘Panduan Afiliasi’ Strategi Pemasaran Affiliate Marketing Vs Broker Offline

Siapa sih yang nggak suka dengan model bisnis internet yang satu ini, tanpa memiliki produk sudah bisa berbisnis.

Bisnis model affiliate marketing ini sebenarnya nggak jauh beda dengan bisnis konvensional pada umumnya, kalau di dunia offline bisa di ibaratkan sales, broker ataupun makelar.

Kita akan menerima komisi dari juragan setiap kali kita mampu menjualkan produknya, itulah sedikit gambaran mengenai kesamaan antara broker offline dengan affiliate marketer.

Meskipun memiliki kesamaan dalam prinsip kerjanya…tapi jelas affiliate marketer memiliki keunggulan dibanding makelar pada umumnya.

Affiliate marketer ditunjang dengan adanya infrastruktur yakni internet yang siap membantu memasarkan produk sampai ke penjuru dunia sekalipun.

Dengan biaya pengiriman yang sangat minim bahkan hanya dengan 0 rupiah dengan kecepatan hitungan menit bahkan detik produk sampai…membuat affiliate marketing sangat digemari.

Broker konvensional ?

Jelas mereka terhalang oleh jangkauan wilayah, kalaupun bisa sudah pasti biaya untuk infrastruktur seperti transportasi dan sebagainya sangat membebani bahkan bisa dibilang torok karena untung yang didapat tidak bisa menutupi biaya infrastruktruk tersebut.

Tapi semuanya tergantung pada kondisi setiap individu, jika telah mantap dengan model bisnis masing-masing…mengapa tidak dilanjutkan…

Bagi affiliate marketer, Anda bisa belajar menjual dengan cara cepat atau lambat melalui jenis bisnis periklanan jalur cepat macam PPC Adsensecamp untuk target lokal atau jalur lambat seperti membuat blog (blogging), sedang untuk affiliate marketing luar negeri, anda bisa belajar affiliate di: panduan clickbank.

Untuk broker offline biasanya mereka menyebar brosur, pasang reklame bahkan tidak segan-segran mereka mendatangi rumah-rumah para warga.

Baiklah semuanya kembali kepada diri masing masing, affiliate marketing atau broker offline ?

Semoga bermanfaat, terimakasih.

Archive for the ‘Motivasi Bisnis Internet’ 5 Tips Meningkatkan Motivasi Diri Agar Tetap Prima dalam Berbisnis

Apa jadinya jika seseorang kehilangan motivasi diri, sudah pasti akan berimbas pada kinerja kesehariannya dan ujung-ujungnya adalah datang yang namanya sifat malas.

Semua orang pasti akan mengalami hal demikian, namun yang terpenting disini adalah bagaimana cara kita meminimalisir agat motivasi diri terjaga dengan baik dan prima, khusus dalam hal ini adalah motivasi bisnis internet.

Motivasi bisnis internet bisa menurun lantaran penghasilan yang di idam-idamkan tak kunjung datang, penghasilan masih belum sesuai harapan atau memang kondisi dalam keadaan tidak mood.

Semua itu memang wajar terjadi, tapi jika hal itu di biarkan berlarut-larut, tentu saja ini juga berbahaya. Maka solusi terbaik untuk meningkatkan motivasi diri agar tetap bersemangat dalam bisnis internet adalah dengan:

# Perbanyak Membaca

Membaca bisa menjadi solusi bagi Anda yang kehilangan motivasi. Bacalah buku-buku, artikel, ebook dan sumber-sumber terpercaya yang sekiranya bisa meningkatkan gairah Anda datang kembali.

Dengan membaca akan membuka cakrwala Anda kembali, yang tadinya begitu sempit menjadi terang. Dengan membaca pula seolah-olah Anda telah pergi jauh meninggalkan tempat duduk Anda membaca, resapilah, renungilah setiap kata dan kalimat yang ada dan perbandingkan dengan kondisi Anda, maka saya yakin Anda akan menemukan diri Anda kembali.

# Istirahatlah

Bisa jadi motivasi bisnis Anda menurun lantaran Anda terlalu sibuk dengan pekerjaan, memang benar tujuan Anda baik ingin menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, tapi jika itu sudah berlebihan dan kegiatan yang anda lakukan sudah tidak produktif lagi sehingga motivasi yang tadinya membara ikut-ikutan menurun, tentu saja ini menjadi tidak efektif.

Maka solusi terbaik adalah dengan istirahat, lupakan pekerjaan Anda, keluar sejenak, ambil liburan dengan keluarga, buanglah semua beban yang ada dalam fikiran, rileks dan rasakanlah, maka Anda akan keluar dari hiruk pikuk yang memperbudak Anda dan pada akhirnya stamina dan motivasi Anda kembali prima.

# Bergaullah dengan Orang-orang Suskes dan Penuh Motivasi

Tak dapat di pungkiri, siapa yang ingin menjadi orang yang sukses di suatu bidang, maka berkumpul dengan orang-orang yang telah suskes di bidang tersebut bisa menjadi jawaban.

Orang-orang sukses seperti ini biasanya membawa aura yang bisa memotivasi orang lain, membuat nilai lebih dibanding yang lain, menjadi cahaya di tengah-tengah kegelapan dan menjadi inspirator dalam setiap sepak terjang yang dilakukannya.

Dengan berkumpul dengan orang-orang demikian, akan membuat Anda kecipratan wibawa mereka, sekaligus menjadi cermin bagi diri Anda mengapa sama-sama makan nasi tapi kualitas individu bisa berbeda.

# Berfikirlah Positif

Apa yang Anda fikirkan itulah yang akan terjadi.

Sangat di sayangkan energi banyak terkuras hanya untuk mengurusi hal-hal yang tidak baik bagi Anda, padahal kita tinggal memilih, jika berfikir negatif outputnya adalah…..dan jika berfikir positif maka outputnya adalah….

Oleh karena itu, daripada memikirkan hal-hal yang negatif, lebih baik memikirkan hal-hal yang positif. Karena itu akan menjadi energi bagi kita untuk terus termotivasi.

# Ingat Tujuan

Orang yang motivasinya rendah biasanya tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, mereka bertindak tanpa memiliki arah dan tujuan yang jelas, banyak waktu luang yang terbuang sia-sia.

Oleh sebab itu, saat Anda menekuni bisnis internet, Anda harus mempunyai tujuan dan sistem bisnis yang jelas. Mengapa harus membuat website, mengapa harus rajin menulis, apa yang dilakukan dengan penghasilan dari bisnis internet, mengapa harus melakukan ini, ini, dan ini, semua itu harus ada arah yang jelas.

Dengan memiliki tujuan yang jelas, akan meminimalisir rasa malas dan menumbuhkan motivasi- motivasi untuk mewujudkan tujuan-tujuan Anda.

Itulah beberapa tips dari saya agar motivasi bisnis internet Anda tetap prima. Selanjutnya jika ingin membaca motivasi bisnis, pengambangan diri, kiat sukses dan pelajaran hidup…Anda bisa membaca di blog motivasi Mas Arief Maulana.

Semoga bermanfaat,

Bisnis Internet Marketing. Rahasia Top 10 Besar Google 7 Rahasia Blogging: Sebuah Rumusan Bagaimana Melipatgandakan Profit Bisnis dengan Blog Hingga

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang kontroversi rahasia blogging Joko Susilo, sesuai janji dimana saya akan memberikan review materi apa saja yang ada dalam ebook rahasia blogging tersebut.

Review ini mudah-mudahan bisa menjadi pencerahan bagi orang yang masih skeptis terhadap produk tersebut sekaligus referensi bagi Anda yang ingin mengetahui lebih dalam tentang bagaimana sebuah rumusan blogging bisa melipatgandakan profit bisnis hingga 5 x lipat.

Baiklah tanpa panjang lebar saya mulai…

Ebook rahasia blogging ini berisi 7 modul yang datang langsung dari pengalaman si empunya bapak Joko Susilo setelah menekuni dunia blogging kurang lebih setelah setahun yang sebelumnya cuma hanya mengandalkan website penjualan yang terbilang statis yakni Formula Bisnis.

Dengan pekerjaan blogging tersebut ternyata banyak orang yang antusias dengan materi artikel yang disampaikan dan banyak orang yang mendapatkan ilmu-ilmu baru seputar bisnis internet marketing. Ini bisa dibuktikan dengan meningkatnya jumlah pengunjung dari waktu ke waktu dan banyaknya komentar yang masuk di setiap postingan.

Dari pengalaman tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah blog yang biasanya fungsinya hanya sekedar curhat dan sharing pengalaman ternyata bisa melipatgandakan profit bisnis hingga 5 x lipat, tentunya tidak sembarang ngeblog seperti pada umumnya, melainkan ada rumusan khusus untuk mewujudkan itu.

Kalau Anda penasaran silahkan menuju langsung ke situs resminya di: Rumus Blogging

Lalu apa saja materinya ?

MODUL #1

Mindset: Sebuah pemahaman penting dan sangat serius sebelum Anda terjun ke dunia blogging.

Di dalamnya terkandung penemuan konsep rumus rahasia blogging, bagaimana mendapat uang dari blogging secara beruntun, manfaat besar blogging untuk bisnis, menampilkan keahlian pada calon customer, cara mengembangkan hubungan lebih akrab dengan pengunjung, mindset seorang blogger yang sukses.

Langkah selanjutnya adalah Anda akan mengetahui konsep blogging yang benar, fakta-fakta kedahsyatan rahasia blogging, bagaimana dengan blogging bisa meningkatkan penjualan secara drastis serta 7 langkah rahasia membangun blog sukses spektakuler.

MODUL #2

Planning: Bagaimana langkah awal merancang blog dan mengoptimasinya untuk menghasilkan profit tanpa henti.

Pada modul kedua ini Anda akan menemukan pasar ceruk untuk menentukan topik blog Anda, langkah menciptakan market ideal lewat riset keyword, jenis software ideal melakukan riset keyword beserta cara menggunakannya, memilih 6 platform blog paling populer.

Anda akan dituntun cara memilih nama domain yang tepat, mendaftarkan domain dan sewa hosting, memasang themes blog sesuai topik, memasang plugin yang tepat sesuai kebutuhan dan tujuan, selanjutnya teknik menulis postingan yang terdiri dari mulai dari mana menulis dan struktur postingan.

MODUL #3

Content: Bagaimana menyajikan content blog yang menghisap pembaca dan membuatnya ketagihan

Anda akan belajar strategi blogging yang efektif, membuat blog Anda kharismatik, mengetahui apa yang di inginkan pengunjung, cara menulis artikel yang kreatif, 22 tips posting yang menarik, mengikat pembaca agar tidak pergi dari blog, upaya ketika buntu dalam menulis, solusi bagi yang bukan penulis.

Selain itu juga pada modul ini terdapat rahasia bagaimana Joko Susilo mendatangkan komentar yang berlimpah dan 7 kesalahan fatal dalam blogging.

MODUL #4

Traffic 1: Sebuah metode bagaimana Joko Susilo bisa mendatangkan 7000 pengunjung blog per hari

Pada bagian ini terdapat strategi mendatangkan pengunjung secara terurut, efek kekuatan jaringan, strategi artikel marketing, etika berkomentar, larangan menggunakan peternakan link, menggapai puncak dengan search engine, 10 faktor pendongkrak posisi di SERP, cara marketing dengan SEO link.

Selain itu juga memanfaatkan WEB 2.0 untuk mendatangkan traffic beserta strateginya beserta teknik ampuh membuat pengunjung setia mengunjungi web Anda kembali.

MODUL #5

Traffic 2: Merupakan lanjutan dari teknik mendatangkan pengunjung vol 1 beserta cara mempopolerkan blog

Modul 5 ini berisi bagaimana memperkuat kredebilitas Anda, keajaiban Word Of Mouth, strategi Co-Branding, dll.

MODUL #6

Monitize: Bagaimana menyulap blog Anda menjadi mesin pencetak uang

Anda akan tahu berapa banyak uang yang akan Anda hasilkan, 10 alasan mengapa blog tidak menghasilkan uang, menggunakan blog sebagai pendukung utama bisnis, metode monitizing Joko Susilo, mendapat uang dari affiliate marketing program, seleksi program affiliate, taktik menjual di blog dan aneka peluang bisnis yang akan membuat blog menjadi benar-benar mesin pencetak uang.

MODUL #7

Leverage: Bagaimana mengelola blog agar lebih efektif dan produktif

Pada modul terkhir ini Anda akan belajar bagaimana membangun kerajaan bisnis dari blog, blogger yang sukses spektakuler dan cara menjalankannya, menghasilkan keuntungan bertubi-tubi lewat artikel dan kontes, resep menjadi blogger yang tangguh dan tantangan-tantangan yang mau berbisnis blogging.

Itulah 7 modul rangkuman materi yang saya dapat di ebook rahasia blogging, tentunya masih banyak materi-materi yang belum saya sebutkan satu persatu seperti diatas, tapi setidaknya ini bisa menjadi gambaran sebelum Anda membeli rumus rahasia blogging ini.

Oh iya, dalam paket rumusan rahasia blogging ini juga terdapat bonus berupa 75 ide blogging yang berpotensi sukses luar biasa, 12 video tutorial Wordpress pemula, 10 video tutorial Wordpress tingkat lanjut, 88 plugin spesial yang akan mendongkrak blog Anda, dan 14 themes premium paling populer dan terbaik di internet.

Nah..itulah review yang bisa saya berikan terhadap produk ini, jika Anda penasaran silahkan menuju situs resminya di: Rumus Blogging.

B isnis Man

Tahun 2009 bisa dikatakan ajangnya tahun kontes di internet khususnya wilayah Indonesia, bagaimana tidak, setiap kali kontes satu selesai, muncul kontes baru lagi. Dan ini ramai kita jumpai di sepanjang tahun 2009.

Macamnyapun tidak hanya satu melainkan bermacam-macam, dari desain banner, review produk, affiliate marketing, menulis artikel, hingga kontes yang boleh dikatakan paling ramai belakangan ini, yakni kontes SEO.

Terakhir yang memberikan hadiah cukup besar dengan total hadiah 30 juta adalah Astaga.com, target kata kunci yang di perebutkan adalah Astaga.com lifestyle on the net, mereka yang bisa masuk TOP 10 Google.co.id dianggap sebagai pemenang.

Dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi kepada Anda semua tentang kiat bagaimana cara memenangi semua ajang kontes yang ada di jagat internet, tentunya berdasarkan hasil pengalaman pribadi.

Apa saja kiatnya ?

# Kenali Diri

Pertama yang harus Anda lakukan adalah mengenali diri Anda sendiri, dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

Siapa diriku ?

Kemampuan apa yang kumiliki ?

Apakah kemampuan yang kumiliki tersebut sesuai dengan kontes yang diadakan ?

Dan bla bla bla bla….

Itulah sekelumit pertanyaan yang harus Anda jawab jujur terkait diri Anda.

Misalkan saja dalam kontes SEO, jika biasanya Anda mampu bersaing dengan total 5.000.000 web halaman pesaing dalam perebuatan suatu keyword (diluar kontes), kenapa yang hanya 10.000 saja tidak mampu ?

Apalagi dalam kontes keyword yang diperebutkan biasanya terbilang baru ( pesaing masih minim). Anda sendirilah yang tahu jawabannya, dari sini pula Anda bisa mengukur untuk maju atau mundur.

# Kenali Lawan

Setelah mengenal diri sendiri, selanjutnya adalah mengenal lawan yang akan di hadapi. Anda bisa mengajukan pertanyaan seperti ini:

Siapakah lawanku ?

Berapa banyak lawan yang kuhadapi ?

Bagaimana prestasi mereka di luar maupun diajang kontes ?

Dan bla bla bla bla….

Boleh saja Anda mengklaim jago desain banner, tapi jika lawan Anda adalah juara nasional di ajang kontes desain banner, dimana hanya ada 3 pemenang yang akan diambil sebagai pemenang, sedang peserta rata-rata adalah seorang jawara, tentu saja Anda harus berfikir ulang untuk mengikutinya.

Sebaliknya, jika Anda merasa yakin dengan kemampuan yang Anda miliki bisa mengalahkan mereka, mengapa tidak dilanjutkan.

# Syarat dan Ketentuan Perlombaan

Anda mengenal siapa diri dan lawan Anda, namun ketentuan perlombaan tidak mengiyakan seperti waktu kontes yang terlalu lama atau persyaratan lain yang tidak sesuai harapan.

Memang benar Anda turut berpartisipasi, tapi karena ada salah satu ketentuan dan persyaratan yang tidak Anda kehendaki, biasanya hal ini akan mengurangi motivasi, dimana yang timbul nantinya adalah ketidakpastian yang bisa mengakibatkan kinerja menjadi tidak optimal.

Untuk itulah, sebelum Anda tampil di medan perang, ada baiknya Anda memperhatikan hal tersebut dan apabila 3 kiat diatas dirasa memenuhi dan sesuai dengan kriteria Anda, maka bukan tidak mungkin ajang kontes apapun di internet yang Anda ikuti bisa dimenangkan.

Semoga bermanfaat

Pokok-pokok pikiran dalam kitab ta'lim muta'alim yang menjadi "dasar kuat" santri dalam menuntut ilmu.

Pokok-pokok pikiran dalam kitab ta'lim muta'alim yang menjadi "dasar kuat" santri dalam menuntut ilmu.



BAB III
PEMIKIRAN AL-ZARNUJI TENTANG PENDIDIKAN
DALAM KITAB TA’LĪM AL-MUTA’ALIM

A. Riwayat Hidup al-Zarnuji
Plessner mengatakan al-Zarnuji adalah salah seorang filosof Arab yang tidak diketahui nama dan waktu hidupnya secara pasti. Ada yang menyebutnya dengan Burhān al-Dīn, ada juga yang menyebutnya dengan Burhan al-Islam. Namun, kedua nama itu diperkirakan sebagai julukan saja atas jasa-jasanya dalam menyebarkan Islam. Nama "al-Zarnuji" sendiri diyakini bukan nama asli, tetapi nama yang dinisbahkan kepada tempat, yakni Zurnuj atau Zaranj. Al-Qurasyi mengatakan Zurnuj adalah sebuah tempat di wilayah Turki. Sedangkan menurut Hamawi, Zurnuj adalah sebuah tempat yang terkenal di ma wara’a al-nahr wilayah Turkistan, tetapi menurut para pakar geografi daerah ma wara’a al-nahr itu bukan di Turkistan, melainkan di Turki. Dengan demikian diperkirakan bahwa ia berasal dari Turki. Mengenai masa hidupnya juga masih belum jelas, kecuali sebatas perkiraan-perkiraan saja. Satu-satunya penulis yang menunjuk tahun wafatnya adalah Fuad al-Ahwani. Menurut dia al-Zarnuji wafat tahun 591/1194. Namun, tahun yang ditunjuk oleh al-Ahwani ini terbantahkan, karena bila ditelusuri dari guru-gurunya ternyata al-Zarnuji merupakan salah seorang murid dari Syekh Burhān al-Dīn Ali bin Abi Bakar al-Farghani al-Marghinani (w. 1197), penulis Kitab al-Hidayah fî Furu’ al-Fiqh.
Hal ini dapat diketahui dari seringnya ia menyebut namanya dan mendoakan supaya Allah menyucikan ruhnya.
Menurut al-Qurasyi, al-Zarnuji adalah seorang pendidik abad ke-13, sedangkan G. E. Von Grunebaum dan Theodora M. Abel mengatakan bahwa ia seorang ulama yang hidup menjelang akhir abad ke-12 dan permulaan abad ke-13. Penunjukan tahun ini hampir sama dengan perkiraan Marwan Qabbani. Sedangkan al-Ahwani menyebutkan bahwa Muhammad al-Kafrawi menempatkan ia dalam generasi ke-12 dari ulama Hanafiyyah yang diperkirakan hidup pada sekitar tahun 620/1223. Terlepas dari kontroversi penunjukan tahun-tahun tersebut, yang jelas hampir dapat dipastikan bahwa ia hidup di ujung pemerintahan Abbasiyah di Baghdad.
Al-Zarnuji adalah orang yang diyakini sebagai satu-satunya pengarang kitab Ta’līm al-Muta’allim, akan tetapi ketenaran nama beliau tidak sehebat kitab yang dikarangnya. Dalam satu literatur disebutkan bahwa al-Zarnuji adalah seorang filosof arab yang namanya disamarkan, yang tidak dikenal identitas namanya secara pasti.
Seorang penulis muslim membuat spekulasi bahwa al-Zarnuji aslinya berasal dari daerah Afganistan, kemungkinan ini diketahui dengan adanya nama Burhān al-dīn, yang memang disetujui oleh penulis bahwa hal itu biasanya digunakan dinegara ini. Terkait dengan hal tersebut, beberapa peneliti berpendapat bahwa dilihat dari nisbahnya nama al-Zarnuji diambil berdasar pada daerah dari mana ia berasal yaitu daerah Zarand. Zarand adalah salah satu daerah diwilayah Persia yang pernah menjadi ibu kota Sijistan yang terletak disebelah selatan Herat.
Sedikit sekali dan dapat dihitung dengan jari bahwa ada sebuah buku atau kitab yang menulis tentang biografi/riwayat hidup penulis kitab Ta’līm al-Muta’allim tersebut. Dan beberapa kajian terhadap kitab Ta’līm al-Muta’allim, tidak dapat menunjukkan secara pasti mengenai waktu kehidupan dan karir yang dicapainya. Sehingga pengetahuan kita tentang al-Zarnuji sementara ini berdasar pada studi M. Plessner yang dimuat dalam Encyclopedia of Islam.
Dalam buku Islam Berbagai Perspektif: Didedikasikan untuk 70 tahun Prof. H. Munawir Sadjali, M.A., Affandi Muchtar mendapat informasi lain tentang al-Zarnuji berdasar pada data dari Ibn Khalilkan, adalah al-Zarnuji merupakan salah seorang guru Rukn al-Dīn Imām Zada (Wafat sekitar tahun 573 H) dalam bidang fiqih. Imām Zada juga berguru pada Syekh Ridha al-Dīn al-Nishapuri (wafat sekitar antara tahun 550 dan 600 H) dalam bidang Mujahadah. Kepopuleran Imām Zada diakui karena prestasinya dalam bidang Ushūluddin bersama dengan kepopuleran ulama lain yang juga mendapat gelar rukn (sendi). Mereka antara lain Rukn al-Dīn al- ‘Amidi (wafat : 615 H) dan Rukn al-Dīn al-Tawusi (wafat: 600 H). Dari data ini dapat dikatakan bahwa al-Zarnuji hidup sezaman dengan Syekh Ridha al-Dīn al-Nisaphuri.
Kelahiran atau masa hidup al-Zarnuji hanya dapat diperkirakan lahir pada sekitar tahun 570 H, sedangkan tentang kewafatan al-Zarnuji terdapat perbedaan, ada yang menyatakan al-Zarnuji wafat pada tahun 591 H (1195 M) dan menurut keterangan Plessner, bahwasannya ia telah menyusun kitab tersebut setelah tahun 593 H (1197), perkiraan tersebut berdasar adanya fakta bahwa al-Zarnuji banyak mengutip pendapat dari guru beliau yang yang ditulis dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim, dan sebagian guru beliau yang ditulis dalam kitab tersebut meninggal dunia pada akhir abad ke-6 H, dan beliau menimba ilmu dari gurunya saat masih muda. Al-Zarnuji merupakan ulama yang hidup satu periode dengan Nu’man bin Ibrahim al-Zarnuji yang meninggal pada tahun yang sama, diapun meninggal tidak jauh dari tahun tersebut karena keduanya hidup dalam satu periode dan generasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa al-Zarnuji wafat sekitar tahun 620 H, atau dalam kata lain al-Zarnuji hidup pada seperempat akhir abad ke-6 sampai pada dua pertiga pertama dari abad ke-7 H (abad XII – awal abad XIII Masehi).

B. Latar Belakang Sosial Politik
Dalam waktu yang diperkirakan sebagai masa hidup al-Zarnuji, yakni diakhir abad ke-6 H dan memasuki abad ke-7 H atau abad 12-13 M, merupakan jaman kemunduran dan kemerosotan Daulah Abbasiyah sekitar tahun 292-656 H. Pada masa ini dunia Islam telah mengalami kontak senjata dengan dengan orang-orang Kristen dalam perang Salib sejak tahun 1097 M sampai dengan tahun 1291 M . Pada periode yang sama Daulah Abbasiyah menuntut pembagian Bojena, sedang memasuki periode ke-4 (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan Bani Saljuk dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah yang disebut masa pengaruh Turki kedua, dan periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), pada masa ini kekuasaan khalifah telah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaan khalifah hanya efektif disekitar kota Baghdad.
Menurut Luthfi Jum’ah dalam bukunya Tarīkh Falsafatil Islām Fil Masyrīq Wal Maghrīb yang dikutip oleh Busyairi Madjidi, menyatakan bahwa pemimipin–pemimipin militer yang berkebangsan Turki jaman ini memegang kekuasaan dalam pemerintahan, sedangkan kekuasaan khalifah semakin lemah. Karena itu banyak amir-amir melepaskan diri dari pemerintahan pusat (Baghdad) dan mendirikan daulat-daulat (kesultanan) yang berdiri sendiri – sendiri.
Philip K. Hitti mengatakan bahwa, dunia Islam waktu itu sedang mengalami disintegrasi politik. Baghdad sebagai pusat pemerintahan Islam tidak dapat mengendalikan kekuasaannya di daerah-daerah. Hal ini diikuti oleh sikap penguasa daerah yang melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Akan tetapi bahkan ada yang kemudian menguasai pemerintahan pusat (Baghdad), diantaranya dinasti Buwaihiyyah (320 - 447 H / 932 – 1055 M), dinasti Saljuk (Saljuk Besar) didirikan oleh Rukn al-Dīn Abū Thalib Thughrul Bek Ibn Mīka’il Ibn Seljuk Ibn Tuqaq yang menguasai Baghdad dan memerintah selama 93 tahun (429-522 H / 1037-1127 M), dua dinasti ini yang memerintah pada masa al-Zarnuji serta Dinasti Ayubiyah (564-648 H / 1167-1250 M).
Di jaman kaum Saljuk, kota Baghdad mendapatkan kembali sebagian dari daerah kedudukannya yang semula sebagai ibukota kerohanian tempat persemayaman khalifah Abbasiyah yang menikmati pengaruh keagamaan, dan menikmati kembali kehebatan serta keagungan yang pernah dinikmati sebelumnya. Hal ini mungkin dikarenakan kesendirian di Baghdad serta mendapat kehormatan dan sanjungan dari sultan-sultan kaum Saljuk, dan pengaruh politik terus berada di ibukota kaum Saljuk di Nisabur kemudian di Raiyi.
Dalam zaman inilah para ulama dengan dukungan penguasa mulai dengan keras mengecam filsafat dan para filosof bahkan dengan ilmu hikmah (ilmu pengetahuan umum) pada umumnya. Akan tetapi pandangan mereka terhadap filsafat dan mantiq berbalik arah, semula ilmu hikmah diabadikan kepada agama tetapi pada akhirnya hampir saja agama itu dibunuhnya. Ibnu Khaldun sendiri mengatakan bahwa filsafat itu besar mudharatnya terhadap agama.
Ahmad Syalabi menjelaskan, bahwa zaman kaum Saljuk banyak terjadi kebangkitan pikiran yang pesat, yang dasarnya telah dirintis oleh Nizamul Mulk Wazir kepada Alb Arislan dan Malik Syah. Wazir yang berilmu pengetahuan ini telah mendirikan sekolah-sekolah yang menggunakan namanya, yaitu Nizamiyah. Sekolah-sekolah tersebut terdapat di tempat-tempat seperti di Baghdad, Balkan, Nisabur, Haraf, Afghan, Basrah, Marwqa, Amal dan Mausil. Menurut al-Subki, Izamul Mulk mempunyai sekolah di setiap kota di Iraq dan Khurasan.
Fazlur Rahman dalam bukunya Islam dan Modernitas, menggambarkan kegiatan intelektual yang dilakukan pada umumnya waktu itu adalah suatu perkembangan besar yang efeknya sangat merugikan kualitas ilmu pengetahuan pada abad-abad pertengahan Islam adalah pengantian naskah-naskah mengenai teologi, filsafat, yurisprudensi dan sebagainya, sebagai materi-materi pengajaran tertinggi, dengan komentar-komentar dan superkomentar- superkomentar. Proses pengkajian komentar-komentar menghasilkan keasyikan dengan detil-detil yang pelik dengan mengesampingkan masalah-msalah pokok dalam obyek yang dikaji. Peselisihan pendapat menjadi prosedur yang paling digemari. Untuk memenangkan suatu poin, dan hampir-hampir menggantikan upaya intelektual yang asli untuk membangkitkan dan menangkap masalah-masalah yang riil dalam obyek yang dikaji.

C. Latar Belakang Pendidikan Dan Intelektual
Al-Zarnuji tidak memberikan informasi tentang kehidupannya baik yang menyangkut biografi keluarga maupun pendidikannya, sehingga untuk mengetahui latar belakang pendidikan dan intelektualitasnya adalah dengan mengetahui nama-nama guru yang didatanginya dan isi dari kitab Ta’līmul al-Muta’alim termasuk nukilan-nukilan pendapatnya, bahwa akan diketahui kecenderungan pola pikir al-Zarnuji yang tertuang dalam buku tersebut. Adapun guru-gurunya yang terkenal sebagaimana dicantumkan dalam kitab Ta’līmul al-Muta’alim diantaranya adalah Abu Hanifah, al-Marghinani, Muhammad bin Hasan, Abu Yusuf, Hammad bin Ibrahim, al-Syairazy, Hilal bin Yasar, Qowwamuddin, al-Hamdani, al-Hulwani, al-Shadru al-Syahid.
Sedangkan menurut para peneliti mengemukakan, bahwa al-Zarnuji menuntut ilmu di Buhkhara dan Samarkan, yaitu kota yang menjadi pusat kegiatan keilmuan, pengajaran dan lain-lainnya. Masjid-masjid di kedua kota tersebut dijadikan sebagai lembaga pendidikan dan ta’lim yang diasuh antara lain oleh Burhānuddīn Al-Marghinani, Syamsuddīn Abd. al-Wadjdi, Muhammad bin Muhammad al-Abd al-Sattar al-Amidi dan lain-lainnya. Dengan demikian berdasar keterangan tersebut dapat diidentifikasi bahwa pemikiran dan intelektualitas al-Zarnuji sangat banyak dipengaruhi oleh faham fiqih yang berkembang saat itu, sebagaimana faham yang dikembangkan oleh para gurunya, yakni fiqih aliran Hanafiyah.
Muid Khan, dalam studinya tentang kitab Ta’līmul al-Muta’alim yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris, mengenai karakter pemikiran al-Zarnuji, yang dikutip oleh Affandi Muchtar bahwa dalam kajian tersebut, Muid Khan memasukkan pemikiran al-Zarnuji kedalam garis pemikiran Madzhab Hanafiyah, yang dikuatkan dengan bukti banyaknya ulama Hanafiyah yang dikutip oleh al-Zarnuji, termasuk Imam Abu Hanifah sendiri. Dari sekitar 50 ulama yang disebut al-Zarnuji, hanya ada dua saja yang bermadzhab Syafi'iyah, yakni Imam Syafi'i sendiri dan Imam Yusuf al-Hamdani (w. 1140 M). Menurut Muid Khan ide-ide madzhab yang dianutnya mempengaruhi pemikirannya tentang penddikan. Sehingga Mahmud bin Sulaiman al-Kaffawi yang wafat tahun 990 H / 1562 M, dalam kitabnya al-A’lāmul Akhyār min Fuqaha Madzhab al-Nu’man al-Mukhtār, menempatkan al-Zarnuji dalam peringkat ke-12 dari daftar madzhab Hanafi. Disamping ahli dalam bidang pendidikan dan tasawuf, sangat dimungkinkan, bahwa al-Zarnuji juga menguasai bidang sastra, fiqih, Ilmu kalam, dan lain-lain.
Dalam sejarah terdapat lima tahap pertumbuhan dan perkembangan dalam bidang pendidikan Islam. Pertama pendidikan pada masa Nabi Muhammad Saw (571-632 M); kedua pendidikan pada masa Khulafāur Rasyidīn (632 – 661 M); ketiga pendidikan pada masa Bani Umayyah di Damsyik (661- 750 M); keempat pendidikan pada masa kekuasaan Abbasiyah di Baghdad (750 – 1250 M); dan kelima pendidikan pada masa jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad (1250 – sekarang ).
Untuk memahami al-Zarnuji sebagai seorang pemikir, maka harus difahami ciri zaman yang menghasilkannya, yaitu jaman Abbasiyah yang menghasilkan pemikir-pemikir Ensiklopedik yang sukar ditandingi oleh pemikir-pemikir yang datang kemudian. Sebagaimana dijelaskan di atas, al-Zarnuji hidup pada awal pemerintahan Abbasiyah di Baghdad yang berkuasa selama lima abad berturut-turut (750-1258 M). Sebagai seorang filosof muslim al-Zarnuji lebih condong kepada al-Ghazali, sehingga banyak jejak al-Ghazali dalam bukunya dengan konsep epistemologi yang tidak lebih dari buku pertama dalam Ihyā Ulūm al-Dīn. Akan tetapi al-Zarnuji memiliki sistem tersendiri, yang mana pada setiap bab dengan bab yang lain, atau setiap kalimat dengan kalimat yang lain, bahkan setiap kata dengan kata yang lain dalam buku tersebut merupakan sebuah kerikil dan konfigurasi mosaik kepribadian Al-Zarnuji sendiri.
Dengan demikian al-Zarnuji hidup pada masa keempat dari periode pendidikan dan perkembangan pendidikan Islam, yakni antara tahun 750 – 1250 M. Sehingga beliau sangat beruntung mewarisi banyak peninggalan yang ditinggalkan oleh para pendahulunya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dan al-Zarnuji bukanlah seorang fuqaha atau muhaddits ataupun mutakallim tetapi beliau seorang murabbi biasa pada sebuah pendidikan, hal ini dilihat dari karyanya hanya satu (Ta’līm al-Muta’allim) dan tidak ada pula perkataan-perkataan beliau yang bernilai hukum, ataupun tidak ada nukilan-nukilan daripadanya untuk dipakai rujukan saat ini baik dari hukum, hadits ataupun ilmu kalam. Berbeda dengan Imam Ghazali yang lebih terkenal dengan ilmu tasawufnya dibandingkan dengan ilmu pendidikannya.
Abuddin Nata, dalam bukunya Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, menggambarkan bahwa, dalam masa tersebut kebudayaan Islam berkembang dengan pesat yang ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan, mulai dari tingkat perguruan tinggi. Diantara lembaga-lembaga tersebut adalah Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk (457 H/106 M), Madrasah al-Nuriyah al-Kubra yang didirikan oleh Nūruddīn Mahmūd Zanki pada tahun 563 H/ 1167 M. dengan cabangnya yang amat banyak di kota Damaskus; Madrasah al-Muntansiriyah yang didirikan oleh Khalifah Abbasyiyah, al-Muntansyir Billāh di Baghdad pada tahun 631 H/ 1234 M. Madrasah al-Muntansiriyah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memadai seperti gedung berlantai II, aula, perpustakaan dengan kurang lebih 80.000 buku koleksi, halaman dan lapangan yang luas, masjid, balai pengobatan dan lain sebagainya. Keistimewaan lainnya Madrasah al-Muntansiriyah adalah karena mengajarkan ilmu fiqih dalam empat madzhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Ahmad Ibnu Hambal).

D. Gambaran Umum Kitab Ta’lim al-Muta’alim dan Pemikiran Pendidikan al-Zarnuji
Dalam khazanah Islam banyak kitab-kitab yang memiliki ‎kecenderungan sama dengan Ta’līm al-Muta’allim, dan lebih dahulu dibanding kitab ‎yang ditulis oleh al-Zarnuji itu, misalnya, al-Targhib fi al-Ilmi karya Ismail ‎al-Muzani (wafat 264 H), Bidayat al-Hidayah dan Minhāj al-Muta’alim karya Imam al-‎Ghazali (wafat 505 H).‎ Namun, Ta’līm al-Muta’allim jauh lebih mengakar di kalangan pondok ‎pesantren dibanding kitab-kitab tentang etika mencari ilmu yang lain, sekalipun ‎periode penyusunannya jauh lebih dahulu dibanding Ta’līm al-Muta’allim. ‎Bandingkan antara Ta’līm al-Muta’allim yang disusun pada akhir abad ke-7 H dengan al-‎Targhib fi al-Ilmi yang dikarang pada pertengahan abad ke-3 H.‎
Pada dasarnya ada beberapa konsep pendidikan al-Zarnuji yang banyak ‎berpengaruh di pesantren: (1) motivasi penghargaan yang besar terhadap ilmu ‎pengetahuan dan ulama; (2) konsep filter terhadap ilmu pengetahuan dan ulama; (3) ‎konsep transmisi pengetahuan yang cenderung pada hafalan; (4) kiat-kiat teknis ‎pendayagunaan potensi otak, baik dalam terapi alamiyah atau moral-psikologis.‎
Poin-poin ini semuanya disampaikan oleh al-Zarnuji dalam konteks moral ‎yang ketat. Maka, dalam banyak hal, ia tidak hanya berbicara tentang etika pendidikan ‎dalam bentuk motivasi, tapi juga pengejawantahannya dalam bentuk-bentuk teknis. Ta’līm al-Muta’allim tidak hanya memberikan dorongan moral agar murid ‎menghormati guru, belajar dengan sungguh-sungguh, atau menghargai ilmu ‎pengetahuan. Tetapi, Ta’līm al-Muta’allim juga sudah jauh terlibat dalam mengatur ‎bagaimana bentuk aplikatifnya, seperti seberapa jarak ideal antara murid dan guru, ‎bagaimana bentuk dan warna tulisan, bagaimana cara orang menghafal, bagaimana cara ‎berpakaian seorang ilmuwan dan lain sebagainya.‎
Menurut Plessner, kitab Ta’līm al-Muta’allim merupakan bagian dari karya al-Zarnuji, yang masih ada sampai sekarang. Sedangkan menurut Imam Ghazali Said, karya al-Zarnuji hanyalah kitab Ta’līm al-Muta’allim, sebagai kontribusi tunggal beliau dalam bidang ilmiah yaitu bidang pendidikan, selain itu tidak ada. Kitab yang terdiri dari 13 Bab tersebut, menurut Khalifah telah diberi catatan komentar (sarah) oleh Ibn Isma’il, yang kemungkinan juga dengan al-Nau’i. Yang diterbitkan pada tahun 996 H, kitab ini juga diterjemahkan kedalam bahasa Turki oleh Abd. Al-Majid bin Nusuh bin Isra’il dengan judul Irsyad al-Ta’līm fi Ta’līm al-Muta’allim.
Kitab Ta’līm al-Muta’allim telah diakui kepopulerannya oleh Khalil A. Totah dan Mehdi Nakosteen, ketika masing-masing melakukan survey atas sumber literatur kependidikan Islam klasik dan abad pertengahan. Hal ini berdasar pada identifikasi sejumlah karya kependidikan, bahwa kitab Ta’līm al-Muta’allim-lah yang paling terkenal. Kepopuleran itu ditunjukkan dengan adanya penerjemahan dari bahasa Arab kedalam bahasa Latin dengan judul Enchiridion Studiosi yang dilakukan dua kali oleh H. Reland pada tahun 1709 dan Caspari pada tahun 1838. dan juga penerjemahan kedalam bahasa Latin dilakkan pada saat masih berlangsung perang Salib.
Kitab Ta’līm al-Muta’allim dikarang oleh al-Zarnuji karena dilatar belakangi oleh rasa keprihatinan beliau terhadap para pelajar pada masanya, yang bersungguh-sungguh dalam belajar akan tetapi mengalami kegagalan, atau kadang-kadang mereka sukses tetapi sama sekali tidak dapat memetik buah kemanfaatan dari hasil ilmu yang dipelajarinya dengan mengamalkan atau menyebarluaskan pada orang lain. Motivasi al-Zarnuji tersebut terungkap dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim yang tertera dalam Muqoddimah, sebagai berikut :
فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زمننا يجدون إلى العلم ولا يصلون. ومن منافعه وثمراته وهى العمل به والنشريحرمون. لــما أنهم أخطؤوا طرائقه وتركوا شرائطه. وكل من أخطأ الطريق ضل ولاينال المـقصود قل أو جل
"Setelah saya mengamati banyaknya penuntut ilmu dimasa saya, mereka bersungguh-sungguh dalam belajar menekuni ilmu tetapi mereka mengalami kegagalan atau tidak dapat memetik buah manfaat ilmunya yaitu mengamalkannya dan mereka terhalang tidak mampu menyebarluaskan ilmunya. Sebab mereka salah jalan dan meninggalkan syarat-syaratnya. Setiap orang yang salah jalan pasti tersesat dan tidak dapat memperoleh apa yang dimaksudkan baik sedikit maupun banyak".

Secara tidak langsung, tujuan dari al-Zarnuji mengarang kitab ini adalah untuk memberi bimbingan kepada para murid (orang yang menuntut ilmu) untuk mencapai ilmu yang bermanfaat dengan cara dan etika yang dapat diamalkan secara kontinyu.
Kitab Ta’līm al-Muta’allim ini dapat diketahui tentang pemikiran pendidikan Islam yang dikemukakan oleh al-Zarnuji. Meskipun kitab ini ditulis sejak abad XIII H, tetapi sudah tampak sistematis dari segi pembahasannya sebagaiman karya-karya ilmiah pada masa sekarang ini. Misalnya sebelum al-Zarnuji menulis pembahasan pasal demi pasal atau dari bab ke bab, terlebih dahulu beliau mengemukakan pendahuluan yang berisikan pembatasan masalah, latar belakang, sistematika pembahasan, yang kemudian dimulai pembahasan pasal demi pasal secara sistematis dan diakhiri dengan penutup dan do’a.
Secara umum kitab Ta’līm al-Muta’allim terdiri dari muqoddimah dan 13 Pasal atau bab antara lain :
Bab I. Keutamaan Ilmu dan Fiqh. Dalam bab ini diterangkan panjang lebar tentang keutamaan orang yang memiliki ilmu pengetahuan dibanding orang yang tidak memiliki ilmu.
Bab II. Niat Ketika Akan Belajar. Dalam bab ini, mencari ilmu harus diniati dengan niat yang baik sebab dengan niat itu dapat menghantarkan pada pencapaian keberhasilan. Niat yang sungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan keridlaan Allah akan mendapatkan pahala. Dalam mencari ilmu tidak diperkenankan dengan niat dengan ilmu akan mendapatkan harta banyak.
Bab III. Memilih Ilmu Guru dan Teman. Dalam bab ini diterangkan bahwa memilih ilmu yang utama adalah ilmu agama, yang didahulukan adalah ilmu tauhid. Dalam memilih guru harus alim, wira'i dan lebih tua.
Bab IV, Memuliakan Ilmu Beserta Ahlinya. Bab ini menerangkan bahwa memuliakan guru adalah paling utama dibanding memuliakan yang lain. Sebab dengan gurulah manusia dapat memahami tentang hidup, dapat membedakan antara yang hak dan batil. Memuliakan tidak terbatas pada sang guru namun seluruh keluarganya wajib dimuliakan.
Bab V, Kesungguhan, Ketetapan, dan Cita-cita Yang Tinggi. Bab ini menerangkan bahwa orang yang mencari ilmu itu harus bersungguh-sungguh dan kontinyu. Orang yang mencari ilmu tidak boleh banyak tidur yang menyebabkan banyak waktu terbuang sia-sia, dan dianjurkan banyak waktu malam yang digunakan belajar. Untuk memperoleh ilmu yang berkah harus menjauhi maksiat.
Bab VI, Permulaan, Ukuran dan Tertib Dalam Belajar. Dalam bab ini diterangkan bahwa permulaan dalam mencari ilmu yang lebih afdlal adalah hari Rabu. Kemudian ukuran dalam belajar sesuai dengan kadar kemampuan seseorang dan dalam belajar harus tertib artinya harus diulang kembali untuk mengingat pelajaran yang telah diajarkan.
Bab VII, Tawakal. Dalam bab ini diterangkan bahwa setiap pelajar hendaknya selalu bertawakal selama dalam mencari ilmu (dalam pendidikan). Selama dalam mencari ilmu jangan sering menyusahkan mengenai rejeki, hatinya jangan sampai direpotkan memikirkan masalah rejeki. Dalam belajar harus diimbangi dengan tawakal yang kuat.
Bab VIII, Waktu Menghasilkan Ilmu. Dalam bab ini diterangkan bahwa waktu menghasilkan ilmu tidak terbatas, yaitu mulai masih dalam ayunan (bayi) sampai ke liang lahat (kubur), dan waktu yang utama untuk belajar adalah waktu sahur (menjelang subuh), dan antara maghrib dan isya'.
Bab IX, Belas Kasih Dan Nasihat. Dalam bab ini diterangkan bahwa orang yang berilmu hendaklah mempunyai sifat belas kasihan kalau sedang memberi ilmu. Tidak dibolehkan mempunyai maksud jahat dan iri hati, sebab sifat itu adalah sifat yang membahayakan dan tidak ada manfaatnya. Bila kita diolok-olok janganlah dibalas dengan kekerasan.
Bab X, Mencari Faedah. Dalam bab ini diterangkan bahwa dalam mencari ilmu dan mendapatkan faedah adalah agar dalam setiap waktu dan kesempatan selalu membawa alat tulis (pulpen dan kertas) untuk mencatat segala yang didengar, yang berhubungan dengan faedah ilmu.
Bab XI, Wira’i (Menjaga diri dari perkara haram). Dalam bab ini diterangkan bahwa sebagian dari wara’ adalah menjaga diri dari kekenyangan, terlalu banyak tidur, terlalu banyak bicara (membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya) dan sedapat mungkin menjaga jangan sampai memakan makanan pasar, dan bahkan menjadi pegawai pemerintah.
Bab XII, Sesuatu Yang Dapat Menjadikan Hafal Dan Lupa. Dalam bab ini diterangkan bahwa yang menyebabkan mudah hafal adalah bersungguh-sungguh dalam belajar, rajin, tetap, mengurangi makan dan mengerjakan salat malam. Adapun yang menyebabkan mudah lupa adalah maksiat, banyak dosa, susah, prihatin memikirkan perkara dunia, banyak pekerjaan dan ada sesuatu yang melekat dalam hati.
Bab XIII, Sesuatu Yang Memudahkan Dan Menyempitkan Rejeki, Memperpanjang Dan Mengurangi Umur. Dalam bab ini diterangkan bahwa sabda Rasulullah, "Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur, kecuali berbuat kebaikan. Orang yang rejekinya sial (sempit), disebabkan dia melakukan dosa". Kemudian yang menyebabkan kefakiran adalah tidur telanjang, kencing telanjang, makan dalam keadaan junub, makan sambil tidur miring, meremehkan sisa makanan, membakar kulit bawang merah atau bawang putih, menyapu rumah dengan menggunakan gombal, menyapu rumah pada waktu malam, menyapu sampahnya tidak dibuang langsung, berjalan atau lewat didepan orang tua, memanggil ayah ibunya dengan sebutan namanya, menusuk-nusuk gigi dengan memakai kayu asal ketemu saja, membasuh tangan dengan tanah atau debu, duduk di atas tangga pintu, bersandar pada tepi pintu, berwudlu di tempat istirahat, menjahit pakaian pada waktu sedang dipakai. Kemudian sesuatu yang dapat menambah umur adalah berbuat kebaikan, tidak menyakiti hati orang lain, memuliakan orang tua, atau membaca do'a.
Bentuk pemikiran pendidikan al-Zarnuji dalam buku Ta’līm al-Muta’allim dapat dipetakan menurut komponen pendidikan, adalah berdasarkan tujuan pendidikan, guru sebagai pendidik, murid sebagai terdidik, serta media dan metode pendidikan. Dan untuk mengetahui pemikiran pendidikan al-Zarnuji, maka kitab Ta’līm al-Muta’allim adalah satu-satunya kitab yang dapat dijadikan pijakan, sebab berdasar litertur yang dapatkan, para peneliti masih sepakat bahwa kitab tersebut merupakan satu-satunya kitab sebagai karya al-Zarnuji yang masih ada sampai sekarang.
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan, dalam hal ini menurut al-Zarnuji disebutkan dengan niat, merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam pendidikan Islam. Tujuan pendidikan tersebut, pertama, harus ditujukan untuk mencari rida Allah Swt. Kedua, ditujukan pula untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat yang merupakan tempat kebahagiaan abadi. Ketiga, untuk menghidupkan agama, sebab agama tanpa ilmu tidak akan dapat hidup. Keempat, ditujukan pula untuk menghilangkan kebodohan yang ada dalam diri seseorang. Sebab, manusia telah diberikan Allah potensi akal yang mempunyai kemampuan untuk berpikir dan sekaligus membedakannya dengan makhluk-makhluk lain.
Pada tujuan yang keempat, al-Zarnuji secara aplikatif memberikan konsep sederhana tetapi penuh makna, bahwa seorang murid dididik harus mencapai tingkat kecerdasan intelektual (Intelectual Quotient/IQ) terlebih dahulu walaupun tidak disampaikan dengan vulgar.
وأقوى أسباب الحفظ الجد والمواظبة وتقليــل الغداء وصلاة الليل وقراءة القران
Sedangkan dimensi praktis pelaksanaannya adalah :
ولابد لطالب العلم من المذاكــرة والمناظرة والمطارحة
Al-Zarnuji tidak melupakan pentingnya faktor kecerdasan emosional (Emosional Quotient/EQ) dalam proses pengembangan kepribadian. Dalam bahasa yang santun dan ramah al-Zarnuji berkata:
وينبغى أن يكون صاحب العلم مشفقا ناصحا غير حاسد
Bahkan yang lebih mengagumkan, al-Zarnuji pun telah menyadari bahwa dua kecerdasan tadi akan sia-sia bila tidak dimbangi dengan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ) sehingga al-Zarnuji dengan bijak berkata:

وينبغى أن ينوى المتعلم بطلب العلم رضاالله تعالى والدرالأخرة وإزالة الجهل عن نفسه وعن سائرالجهال وإحياء الدين وإبقاء الإسلام فإن بقاء الإسلام بالعلم
Pada akhirnya kita menemukan sebuah kenyataan dan sulit bagi kita untuk mengingkarinya betapa Ta’līm al-Muta’allim dengan segala kesederhanaannya telah memberikan sebuah konsep mengenai metode pendidikan yang cukup ideal. Juga dengan samar telah menampilkan sketsa dan gambaran tentang keharusan adanya keterhubungan yang utuh antara kecerdasan intelektual lebih berkaitan dengan fungsi akal dengan kecerdasan emosional serta kecerdasan spiritual dimana keduanya sedikit banyak terpengaruhi oleh aspek moralitas dan etika.

2. Peranan Guru Dalam Pendidikan
Pendidik ideal dalam pandangan al-Zarnuji adalah seseorang yang selain mempunyai spesialisi ilmu tertentu, mempunyai sikap hati-hati dalam perbuatan, juga harus lebih tua usianya dari anak didik. Kesemuanya itu dimaksudkan supaya pendidik betul-betul mampu mengemban tugas sebagai pendidik bukan hanya sebagai pengajar. Sebagai pendidik, seseorang harus betul-betul memperhatikan seluruh aspek kehidupan anak didik yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bahkan lebih dari itu, ia juga harus memperhatikan kebutuhan hidup anak didik. Pengajar tentu saja hanya memperhatikan aspek kognitifnya saja, sedangkan persyaratan seorang guru menurut al-Zarnuji adalah seorang yang alim, mempunyai sifat wara/wira , dan lebih tua/senior, dikatakan bahwa:

وأمااختيار الأستاذ فينبغى أن يختار الأعلم والأورع والأسن
Guru dituntut mempunyai moral dan integritas yang baik (akhlak mulia), disamping mempunyai sifat penyayang dan sabar. Dengan bekal tersebut seorang murid akan senang dan betah untuk tetap belajar.
Eksistensi pendidik atau guru ini, al-Zarnuji mewajibkan menghormatinya, bahkan melarang membantah dan menyanggahnya sedikitpun.

رأيت أحق الحق حق المعلم وأوجبه حفظا على كل مسلم
لقد حق أن يهدى إليه كرامة لتعليم حرف واحد ألف درهم
"Tidak ada hak yang lebih besar kecuali haknya guru. Ini wajib dipelihara oleh setiap orang Islam. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar walaupun hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham."

Sedangkan hak-hak guru yang terperinci tercermin dalam pernyataannya bahwa termasuk menghormati guru, adalah:
ومن توقير المعلم أن لايمشى أمامه ولايجلس مكانه ولايبتدئ الكلام عنده إلا بإذنه
"Termasuk menghormati guru ialah hendaklah seorang murid tidak berjalan didepannya, tidak duduk ditempatnya. Jika berhadapannya tidak memulai bicara kecuali ada ijinnya."

ولا يكثر الكلام عنده ولا يسأل شيئا عند ملا لته ويراعى الوقت ولا يدق الباب بل يصبر حتى يخرج
"Hendaklah tidak banyak bicara di hadapan guru. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek/bosan. Harus menjaga waktu. Jangan mengetuk pintunya, tetapi sebaliknya menunggu sampai beliau keluar."

أنه يطلب رضاه ويجتنب سخطه ويمتثل أمره فى غير معصية الله
"Seorang murid harus mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan ia murka, mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama."

3. Status Murid Dalam Pendidikan
Anak didik, untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sejak sebelum menjalankan tugas belajar, seharusnya mempunyai watak-watak yang baik antara lain, tawadu, iffah, tabah, sabar, mencintai ilmu dan menghormati gurunya, bersungguh-sungguh, wara', mempunyai cita-cita yang tinggi serta tawakal.
Hasil penelusuran terdapat isi kitab Ta’līm al-Muta’allim ‎karya al-Zarnuji ditemukan beberapa petunjuk etika dan akhlak bagi ‎para penuntut ilmu (siswa) dalam melakukan kegiatan belajar-mengajar, yakni:
a. Anjuran untuk selalu belajar‎ al-Zarnuji mengutip syair Muhammad bin al-Hasan bin ‎Abdullah, yang mendorong anak-anak untuk selalu belajar atau menuntut ilmu, ‎karena ilmu itu adalah penghias bagi pemiliknya.‎ Syairnya adalah sebagai berikut:
‎تعلم فإن العلم زين لأهــله وفضل وعنوان لكل المــــحامد‏
وكن مستفيدا كل يوم زيـادة من العلم واسبح فى بحور الفــوآئد
تفقه فإن الفقه أفضل قــائد إلى البــر والتقوى وأعدل قــائد‏
هو العلم الهادى إلى سنن الهدى هو الحصن ينجى من جميع الشدآئـد
فإن فــقيها واحدا متـورعا أشد على الشيـطان مـن ألف عابد‏
"Belajarlah! Sebab ilmu itu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikanlah hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ‎ilmu yang berguna.‎ Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul, ilmu yang ‎dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa,‎ Ilmu yang lurus untuk dipelajari, dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan ‎yang lurus, yakni jalan petunjuk. Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari ‎segala keresahan.‎ Oleh karena itu, orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara' lebih berat bagi ‎setan daripada menggoda seribu orang ahli ibadah tapi bodoh."

Bait-bait syair tersebut tidak hanya memuat anjuran untuk menuntut ilmu dan ‎melalui hari-hari dengan selalu menambah ilmu, tetapi juga untuk lebih memfokuskan ‎pada belajar ilmu agama. Karena ilmu agama adalah petunjuk bagi kebenaran, ‎kebaikan, takwa, dan jalan yang lurus.‎

b. Kewajiban mempelajari akhlak terpuji dan tercela‎. Sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan peserta didik, al-Zarnuji amat ‎mendorong bahkan mewajibkan mengetahui dan mempelajari berbagai akhlak yang ‎terpuji dan tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, pemberani, merendah ‎hati, congkak, menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil dan lain-lain.‎
وكذلك فى سائر الأخلاق نحو الجود والبخل والجبن والجرأة والتكبر والتواضع والعفة والإسراف والتقتير وغيرها
‎"Setiap orang Islam wajib mengetahui dan mempelajari berbagai akhlak yang ‎terpuji dan tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, pemberani, rendah hati, ‎congkak, menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil dan lain-lain."‎

c. Larangan mempelajari ilmu perdukunan‎. Al-Zarnuji mengharamkan mempelajari ilmu perdukunan, yang ia sebagai ilmu ‎nujum. Ini membuktikan bahwa Al-Zarnuji tidak hanya mengutamakan ilmu-ilmu ‎agama Islam, tetapi juga menghormati dan menjunjung tinggi ilmu-ilmu aqliyah, ‎karena ilmu perdukunan tidak masuk akal (irasional).
‎وعلم النجوم بمنزلة المرض فتعلمه حرآم لأنه يضر ولا ينفع والهرب من قضاء الله وقدره غير ممكن
"Sedangkan mempelajari ilmu nujum itu hukumnya haram, karena ia diibiratkan ‎penyakit yang amat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu sia-sia belaka, ‎karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari takdir Tuhan".

Sebaliknya, Al-Zarnuji membolehkan mempelajari ilmu-ilmu alam yang ‎didasarkan pada rasio dan pengamatan, seperti ilmu kedokteran serta ilmu-ilmu lain ‎yang bermanfaat.‎

d. Mengenai niat dalam menuntut ilmu. Al-Zarnuji menempatkan niat dalam kedudukan yang amat penting bagi para ‎pencari ilmu. Ia menganjurkan agar para pencari ilmu menata niatnya ketika akan ‎belajar.‎ Ia mengatakan:

ثم لابد له من النية فى زمان تعلم العلم. إذا النية هي الأصل فى جميع الأحوال
"Setiap pelajar harus menata niatnya ketika akan belajar. Karena niat adalah pokok ‎dari segala amal ibadah".

Menurutnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para pelajar terkait ‎dengan niat mencari ilmu itu, yaitu:‎ pertama, niat itu harus ikhlak untuk mengharap ridla Allah;‎ kedua, niat itu dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan;‎ ketiga, boleh menunutut ilmu dengan niat dan upaya mendapat kedudukan di ‎masyarakat, dengan catatan kedudukan itu dimanfaatkan untuk amar ma'ruf dan ‎nahi munkar, untuk melakukan kebenaran, untuk menegakkan agama Allah; dan ‎bukan untuk keuntungan diri sendiri, juga bukan karena keinginan hawa nafsu.

e. Sifat tawadlu. Para pencari ilmu dianjurkan oleh al-Zarnuji untuk tawadlu dan tidak ‎tamak pada harta benda. Ia mengutip syair yang dikemukakan oleh Ustadz Al-Adib ‎berkenaan dengan keutamaan tawadlu, sebagai berikut:‎
إن التواضـع من خصـال المتـقى – وبه التــقى إلى المعالى يرتقى
ومن االعجآئب عجب من هو جاهل – فى حاله أهو السعيدأم الشقى
"Tawadlu adalah salah satu tanda/sifat orang yang bertakwa. Dengan bersifat ‎tawadlu, orang yang bertakwa akan semakin tinggi martabatnya. Keberadaannya ‎menakjubkan orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara orang yang ‎beruntung dengan orang yang celaka".

f. Cara memilih guru‎. Dalam kitab ini, al-Zarnuji juga memberikan semacam resep bagaimana mencari ‎guru. Menurutnya, guru yang baik adalah yang alim, wara dan lebih tua dari muridnya, ‎sebagaimana dikatakannya:‎
وأما اختيار الأستاذ فينبغى أن يختار الأعلم والأورع والأسن
"Dan adapun cara memilih guru, carilah yang alim, yang bersifat wara, dan yang ‎lebih tua".

‎g. Cara memilih jenis ilmu‎. al-Zarnuji menganjurkan agar para pelajar memilih ilmu yang peling baik dan ‎sesuai dengan dirinya. Di sini unsur subyektivitas pelajar menjadi pertimbangan ‎penting. Bakat, kemampuan akal, keadaan jasmani seyogyanya menjadi pertimbangan ‎dalam mencari ilmu.‎ Namun demikian, al-Zarnuji menempatkan ilmu agama sebagai pilihan pertama ‎yang mesti dipilih oleh seorang pelajar. Dan di antara ilmu agama itu, Ilmu Tauhid ‎mesti harus diutamakan, sehingga sang pelajar mengetahui sifat-sifat Allah ‎berdasarkan dalil yang otentik. Karena menurut al-Zarnuji, "iman seseorang yang ‎taklid tanpa mengetahui dalilnya berarti imannya batal". Selain ilmu tauhid, al-Zarnuji juga menganjurkan para pelajar untuk ‎mempelajari ilmunya para ulama Salaf.‎

‎h. Nasihat kepada para pelajar‎. al-Zarnuji memberikan beberapa nasihat yang di dalamnya sarat dengan muatan ‎moral dan akhlak bagi para pelajar, nasihat-nasihat itu antara lain anjuran untuk bermusyawarah. Karena mencari ilmu merupakan sesuatu yang luhur namun perkara yang sulit, al-Zarnuji menganjurkan agar para pelajar melakukan diskusi atau musyawarah ‎dengan pelajar atau orang lain.‎
Ia mengatakan:‎
وطلب العلم من أعلى الأمور وأصعبها فكان المشاورة فيه أهم وأوجب
"Mencari ilmu adalah perbuatan yang luhur, dan perkara yang sulit, maka ‎bermusyawarahlah dengan mereka yang lebih tahu dan itu merupakan suatu keharusan".

(h.1) Anjuran untuk sabar, tabah dan tekun. Al-Zarnuji menganjurkan agar para pelajar memiliki kesabaran/ketabahan dan ‎tekun dalam mencari ilmu. Ia mengatakan:‎
واعلم أن الصبر والثبات أصل كبير فى جميع الأمور
"Ketahuilah, bahwa kesabaran dan ketabahan/ketekunan adalah pokok dari segala ‎urusan".

Dalam kaitan ini, al-Zarnuji mengutip ucapan Ali Ibn Abi Thalib yang ‎mengatakan:‎
ألالاتـنال العـلم إلا بسـتة سأنبك عن مجموعها ببيان
ذكاء وحرص واصطبار وبلغة وإرشاد أستاذ وطول الزمان‏
"Ketahuilah kamu tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara; ‎sebagaimana saya sampaikan kumpulannya dengan jelas, yaitu: cerdas, semangat, ‎bersabar, memiliki bekal, petunjuk bimbingan guru dan waktu yang lama".

(h.2) Anjuran untuk bersikap berani. Selain sabar dan tekun, al-Zarnuji juga menganjurkan para pelajar untuk ‎memiliki keberanian. Keberanian berarti juga kesabaran dalam menghadapi kesulitan ‎dan penderitaan. Ia mengatakan:‎
الشجاعة صبر ساعة
"Keberanian adalah kesabaran menghadapi kesulitan dan penderitaan".

(h.3) Anjuran untuk tidak mengikuti hawa nafsu. al-Zarnuji banyak sekali menekankan tentang pentingnya menghindari hawa ‎nafsu. Ia mengatakan:‎
وينبغى أن يصبر عما تريد نفسه
"Hendaknya seorang siswa bersifat sabar dalam menuruti hawa nafsunya".

‎(h.4) Anjuran berteman dengan orang baik. al-Zarnuji memberikan saran kepada para pelajar agar ia selalu berteman dengan ‎orang-orang yang baik, yang menurutnya, orang-orang yang baik adalah:
المجد والورع وصاحب الطبع المستقيم والمتفهم ويفر من الكسلان والمعطل والمكثاروالمفسد والفتان
"Yang tekun belajar, bersifat wara', berwatak istiqamah, dan mereka yang ‎faham/pandai. Sebaliknya ia tidak berteman dengan orang yang malas, banyak bicara, ‎suka merusak dan suka memfitnah".

(h.5) Anjuran menghormati ilmu dan guru. Menghormati ilmu dan guru adalah salah satu sifat yang mesti dimiliki oleh ‎setiap pelajar, bila ia ingin sukses dalam mencari ilmu.‎ Ia berkata:‎
إعلم بأن طالب العلم لاينآل العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله وتعظيم الأستاذ وتوقيره
"Ketahuilah bahwa para pencari ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan ilmunya ‎tidak akan bermanfaat, kecuali dengan cara menghormati ilmu, ahli-ahli ilmu dan ‎menghormati para guru".

Bahkan karena pentingnya hormat kepada guru, al-Zarnuji bahkan memberikan ‎nasihat kepada para pelajar agar ia tidak berjalan di depannya, tidak duduk di ‎tempatnya, dan bila di hadapan guru ia tidak memulai bicara kecuali ada ijinnya. ‎ Hormat seorang siswa kepada gurunya juga harus ditunjukkan dengan cara tidak ‎banyak bicara di hadapan guru dan senantiasa mencari kerelaan hati sang guru. Anjuran al-Zarnuji inilah yang oleh para aktivis pesantren ‎mendapat banyak sorotan, terutama anjurannya untuk tidak terlalu banyak bicara di ‎hadapan guru. Menurut mereka, anjuran ini dapat melemahkan kreativitas siswa dalam ‎berdiskusi.‎ Cara lain menghormati guru menurut al-Zarnuji adalah dengan tidak menyakiti ‎hati guru, karena dengan demikian, maka ilmunya tidak akan memiliki berkah.

(h.6) Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam belajar. Dalam pasal tentang kesungguhan (al-jiddu), ketekunan (al-muwadzabah), dan ‎cita-cita (al-himmah), al-Zarnuji mengatakan:

ثم لابد من الجد والمواظبة والملازمة .... من طلب شيئا وجد وجد. من قرع الباب ولج ولج
"Dan siswa harus bersungguh-sungguh dalam belajar, harus tekun …. Barang siapa ‎bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu tentu akan mendapatkannya. Siapa saja ‎yang mau mengetuk pintu dan maju terus, tentu bisa masuk".

(h.7) Anjuran untuk mencermati perkataan guru. Dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa, al-Zarnuji ‎mengnjurkan agar para siswa senantiasa jeli dalam mencermati apa yang dikatakan ‎oleh guru. Ia mengatakan:‎

وينبغى أن يجتهد فى الفهم من الأستاذ
"Seyogyanya siswa berusaha sungguh-sungguh memahami apa yang diterangkan oleh ‎gurunya".

(h.8) Anjuran untuk berusaha sambil berdoa. Usaha saja tidaklah cukup bagi seorang siswa tanpa disertai dengan do'a. ‎demikian pula do'a tidak akan berarti tanpa disertai dengan usaha. Oleh karena itu al-‎Zarnuji menganjurkan agar siswa senantiasa berusaha dan berdo'a. Ia berkata:
‎وينبغى أن يجتهد ويدعو الله تعالى
"Oleh karena itu seharusnya ia berusaha memahami pelajarannya sambil berdo'a ‎kepada Allah".

(h.9) Anjuran untuk berdiskusi. Diskusi atau belajar besama adalah sesuatu yang amat penting bagi para siswa ‎dalam memahami materi-materi pelajarannya. Oleh karena itu, al-Zarnuji ‎menganjurkannya. Ia berkata:

‎ولابد لطالب العلم من المذاكرة والمناظرة والمطارحة. وينبغى أن يكون بالإنصاف والتأنى والتأمل ويتحرز عن الشغب
"Para pelajar harus melakukan muzakarah (diskusi untuk saling mengingatkan), ‎dan munadzarah (berdialog). Hendaknya ia dilakukan dengan sungguh-sungguh, tertib, ‎tidak gaduh dan tidak emosional".

(h.10) Anjuran untuk senantiasa bersyukur. Imam Al-Zarnuji memberi nasihat agar para pelajar senantiasa selalu bersyukur ‎kepada Allah. Ia berkata:‎

ينبغى لطالب العلم أن يستغل بالشكر بالسان والجنان والأركان والمال
"Para pelajar harus selalu bersyukur kepada Allah, baik dengan menggunakan lisan, ‎hati, tindakan nyata, maupun dengan harta".

(h.11) Anjuran untuk tidak mudah putus asa. Mencari ilmu tidak mudah. Untuk menggapainya diperlukan usaha sungguh-‎sungguh dan serius. Dan untuk itu pun para siswa akan berhadapan dengan banyak ‎rintangan, hambatan dan masalah. Oleh karena itu, Al-Zarnuji menganjurkan agar ‎setiap pelajar tidak mudah patah semangat.

‎وينبغى أن لا يكون لطالب العلم فترة وتحير فإنها آفة
"Siswa tidak boleh patah semangat dan mengalami kebingungan, karena ia bisa ‎berakibat buruk".
(h.12) Anjuran untuk senantiasa tawakkal. Di samping tidak boleh patah semangat, ketika para pelajar menghadapi masalah, ‎setelah berusaha ia dianjurkan untuk tawakkal.

لابد لطالب العلم من التوكل فى طلب العلم ولا يهتم لأمر الرزق ولا يشغل قلبه بذلك
"Para pelajar harus tawakkal kepada Allah saat mencari ilmu dan tidak perlu cemas ‎soal rezeki. Dan jangan terlalu sibuk memikirkan masalah rezeki".

(h.13) Anjuran untuk saling mengasihi. Para pencari ilmu disarankan oleh al-Zarnuji untuk saling mengasihi ‎antar sesama. Ia berkata:‎
وينبغى أن يكون صاحب العلم مشفقا ناصحا غير حاسد
"Orang yang berilmu hendaknya saling mengasihi dan saling menasihati tanpa iri-‎dengki/hasad".

(h.14) Anjuran untuk tidak berprasangka buruk. Terhadap sesama Muslim, al-Zarnuji menganjurkan agar tidak memiliki ‎prasangka buruk. Ia mengatakan:‎
وإياك وأن تظن بالمؤمن سوءا فإنه منشأ العدآوة ولا يحل ذلك‏
"Jangan berprasangka buruk terhadap orang mukmin, karena hal itu sumber ‎permusuhan dan hal itu tidak halal/tidak boleh".

(h.15) Anjuran bersikap wara'. Para pelajar disarankan oleh al-Zarnuji untuk memiliki sifat wara' atau ‎menjaga diri dari hal-hal yang tidak jelas halam-haramnya.

فمهما كان طالب العلم أورع كان علمه أنفع والتعلمه له أيسروفوائده أكثر
"Pelajar yang bersifat wara' maka ilmunya akan lebih bermanfaat, belajarnya lebih ‎muda, dan akan memperoleh banyak faidah".

(h.16) Anjuran memperbanyak shalat. Pelajar yang sedang menuntut ilmu disarankan agar selalu mendekatkan diri ‎kepada Sang Pencipta. Untuk shalat menjadi salah satu ibadah yang dapat ‎mendekatkan manusia dengan Allah Swt.

‎وينبغى أن يكثر الصلاة ويصلى صلاة الخاشعين فإن ذلك عون له على التحصيل والتعلم ‎
"Seorang penuntut ilmu hendaknya memperbanyak shalat, dan hendaknya ‎melaksanakan shalat dengan cara khusyu', karena dengan demikian akan membantu ‎keberhasilan belajar".

4. Metode Pendidikan
Alat pendidikan yang meliputi dua aspek yaitu materi dan metode pendidikan yang pada dasarnya kedua hal itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, pemakaian metode pendidikan sesuai dan efektif dengan materi yang diberikan. Pertama, materi pendidikan, harus mempunyai kaitan erat dengan kebutuhan kehidupan keagamaan anak didik, misalnya saja tentang tauhid, ibadah, dan akhlak, selain itu materi juga harus sesuai dengan kebutuhan anak didik dalam menjalani kehidupannya sehari-hari seperti materi ketrampilan kerja. Sedangkan yang kedua, metode pendidikan, al-Zarnuji memberikan metode menghapal supaya pendidikan dapat menginternal dalam diri anak didik, metode mancatat dan memahami, metode munadharah, mudzakarah, dan mutharahah. Metode-metode tersebut, dapat dipraktekkan sesuai dengan karakter materi pelajaran. Sedangkan lingkungan pendidikan haruslah lingkungan yang kondusif untuk pengembangan pendidikan. Lingkungan pendidikan yang dikonsepsikan al-Zarnuji adalah lingkungan persahabatan yang mendukung lancarnya pendidikan dan kesungguhan belajar, dan sebaliknya harus menjauhi lingkungan persahabatan yang tidak mendukung pendidikan.
Dalam bab ke-12 dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim ini, bahwa metode menghafal merupakan metode pokok dalam sistem pendidikan, kekuatan akal dalam menangkap respon-respon dari luar sangat penting dalam usaha pemahaman sesuatu makna. Hal ini terlihat jelas dari deskripsi al-Zarnuji tentang kiat-kiat memperkuat hafalan dan hal-hal yang harus dijauhi yang dapat merusak hafalan (penyebab kelalaian). Usaha untuk memperkuat hafalan (dlabith, dalam istilah hadits) dilakukan dengan cara tekun belajar, mengurangi makan, salat malam, dan membaca Al-Quran. Dikatakan oleh al-Zarnuji:
وأقوى أسباب الحفظ الجد والمواظبة وتقليل الغداء وصلاة اليل وقراءة القرآن
Kiat lain yang dapat menguatkan hafalan seorang murid adalah dengan makan kundar (kemenyan) dicampur madu, makan 21 anggur merah setiap hari tanpa air, dan apa saja yang dapat mengurangi dahak, bisa menguatkan hafalan, dan sebaliknya jika apa saja yang menambah dahak akan menyebabkan lemahnya hafalan seseorang.
Al-Zarnuji secara sederhana memberikan gambaran tentang hal-hal yang menjadikan penyebab lemahnya hafalan seseorang, adalah makan ketumbar basah, makan apel yang kecut, melihat orang yang dipancung, membaca tulisan di kuburan, melewati barisan unta, membuang ketombe hidup di tanah dan cantuk (melukai di bagian tengkuk kepala untuk menghilangkan rasa pusing).

E. Hubungan Guru dan Murid Menurut Al-Zarnuji
Inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu dalam aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungan. Belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang. Orang yang belajar mandiri secara individual dikenal sebagai otodidak, sedangkan orang yang belajar karena dirancang dikenal sebagai pembelajaran formal. Proses belajar sebagian besar terjadi karena memang sengaja dirancang. Proses tersebut pada dasarnya merupakan sistem dan prosedur penataan situasi dan lingkungan belajar agar memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem dan prosedur inilah yang dikenal sebagai proses pembelajaran aktif.
Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut (1) adanya variasi kegiatan klasikal, kelompok dan perorangan; (2) guru berperan sebagai fasilitator belajar, nara sumber dan manajer kelas yang demokratis; (3) keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi; (4) menerapkan pola komunikasi yang banyak; (4) suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang dan tetap terkendali oleh tujuan; (6) potensial dapat menghasilkan dampak intruksional dan dampak pengiring lebih efektif; (7) dapat digunakan di dalam atau di luar kelas/ruangan.
Membahas tentang hubungan guru dan murid, maka sangat terkait dengan interaksi edukatif, yaitu suatu proses yang menggambarkan hubungan aktif dua arah antara guru dan murid dengan sejumlah pengetahuan (norma) sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Anak didik merupakan individu yang akan dipenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan, sikap, dan tingkah lakunya, sedangkan pendidik adalah individu yang akan memenuhi kebutuhan tersebut. Akan tetapi dalam proses kehidupan dan pendidikan secara umum, batas antara keduanya sulit ditentukan karena adanya saling mengisi dan saling membantu, saling meniru dan ditiru, saling memberi dan menerima informasi yang dihasilkan, akibat dari komunikasi yang dimulai dari kepekaan indra, pikiran, daya appersepsi dan keterampilan untuk melakukan sesuatu yang mendorong internalisasi dan individualisasi pada diri individu sendiri.
Untuk mengetahui hubungan antara guru dan murid menurut pemikiran al-Zarnuji, maka dapat diulas dari kitab Ta’līm al-Muta’allim, yang secara spesifik ditulis dalam bab IV, tentang Memuliakan Ilmu dan Ahli Ilmu. Dalam bab ini beliau membahas secara luas mengenai hubungan guru dengan murid, mencakup beberapa etika yang harus diperhatikan oleh seorang murid, terkait dengan hubungan sebagai sesama manusia dalam keseharian maupun hubungan dalam situasi formal sebagai seorang pengajar dan individu yang belajar. Akan tetapi dalam hal ini, bagaimana etika atau sikap guru terhadap murid hanya dibahas secara implisit, karena pada dasarnya kitab ini ditulis sebagai pedoman dan tuntunan bagi para penuntut ilmu atau para murid.
Secara metode pendidikan, al-Zarnuji memberikan konsep secara sederhana tetapi mengandung makna yang luas bahwa dalam proses pembelajaran yang baik ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, adalah:
‎ولابد لطالب العلم من المذاكرة والمناظرة والمطارحة. وينبغى أن يكون بالإنصاف والتأنى والتأمل ويتحرز عن الشغب
"Para pelajar harus melakukan muzakarah (diskusi untuk saling mengingatkan), munadzarah (berdialog), dan mutharahah. Hendaknya ia dilakukan dengan sungguh-sungguh, tertib, ‎tidak gaduh dan tidak emosional".

Pendapat tersebut mengandung arti bahwa metode diskusi antar murid atau dalam bentuk kelompok merupakan penekanan penting untuk sebuah pendidikan. Dengan berdiskusi atau dialog, seorang murid akan mampu melatih daya argumentasinya dan daya kekritisannya dalam memecahkan masalah. Sedangkan cara berdiskusi yang baik adalah serius/peka, mematuhi aturan, tidak membuat keributan, dan mengedepankan rasional daripada emosional.
Metode diskusi mendorong siswa untuk berdialog dan bertukar pendapat, dengan tujuan agar siswa dapat terdorong untuk berpartisipasi secara optimal, tanpa ada aturan-aturan yang terlalu keras, namun tetap harus mengikuti etika yang disepakati bersama. Diskusi dapat dilaksanakan dalam dua bentuk. Pertama, diskusi kelompok kecil (small group discussion) dengan kegiatan kelompok kecil. Kedua, diskusi kelas, yang melibatkan semua siswa di dalam kelas, baik dipimpin langsung oleh gurunya atau dilaksanakan oleh seorang atau beberapa pemimpin diskusi yang dipilih langsung oleh siswa. Jadi dilihat dari segi hubungan antara guru dengan murid adalah hubungan yang demokratis, hubungan dalam pendidikan yang memposisikan guru sebagai fasilitator dan evaluator.
Di bagian lain dalam hubungan guru dengan murid adalah masalah etika murid terhadap guru dalam rangka menghormati atau mengagungkan guru, al-Zarnuji memberikan rambu-rambu yang aplikatif bahwa yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh seorang murid atau santri hendaknya, (1) jangan berjalan di muka guru; (2) jangan menduduki tempat duduk guru; (3) jangan mendahului bicara dihadapan gurunya kecuali seijinnya; (4) jangan banyak bicara dihadapan guru; (5) jangan bertanya sesuatu yang membosankannya; (6) jika berkunjung pada guru harus menjaga waktu, dan jika guru belum keluar maka janganlah mengetuk-ngetuk pintu, tapi bersabarlah hingga guru keluar; (7) selalu memohon keridho’annya; (8) manjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan kemarahann guru; (9) melaksanakan perintah guru asal bukan perintah maksiat; (10) menghormati dan memuliakan anak-anak, famili dan kerabat gurunya.
Belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan dapat mengantarkan seseorang menuju jalan yang terang dan derajat keluhuran. Belajar bagi al-Zarnuji lebih dimaknai sebagai tindakan yang bernilai ibadah, yang dapat ikut menghantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Agama sangat menjunjung nilai-nilai moral dalam kehidupan, terlebih orang-orang yang berilmu. Orang yang mencari ilmu harus memperhatikan dasar-dasar etika agar dapat berhasil dengan baik dalam belajar, memperoleh manfaat dari ilmu yang dipelajari dan tidak menjadikannya sia-sia. Diantara beberapa etika tersebut dapat dipahami dari nasehat–nasehat al-Zarnuji, yang terkait dengan etika dalam menjaga hubungan antara guru dengan murid.
Al-Zarnuji memberi pernyataan penegasan kepada murid, bahwa :

إعلم بأن طالب العلم لاينال العلم ولاينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله وتعظيم الأستاذ وتوقيره
"Ketahuilah sesunguhnya orang yang mencari ilmu itu tidak akan memperoleh ilmu dan kemanfaatannya, kecuali dengan memuliakan ilmu beserta ahlinya, dan memuliakan guru."

Sebagaimana yang diuraikan Siti Khomsatun Khoriyah dalam skripsinya di bab III, bahwa pernyataan di atas menjadi semangat yang mendasari adanya penghormatan murid terhadap guru, bahwa murid tidak akan bisa memperoleh ilmu yang manfaat tanpa adanya pengagungan terhadap ilmu dan orang yang mengajarnya. Jadi untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, membutuhkan jalan dan sarana yang tepat, yakni dengan mengagungkan ilmu yang termasuk dalam mengagungkan ilmu adalah penghormatan terhadap guru dan keluarganya. Apabila kita membuka mata, betapa besar pengorbanan Guru yang berupaya keras mencerdasakan manusia dengan memberantas kebodohan, dengan sabar dan telaten membimbing, mengarahkan murid serta mentransfer ilmu yang dimiliki, sehingga melahirkan individu-individu yang memiliki nilai lebih dan derajat keluhuran baik di mata sesama makhluk maupun di hadapan Allah Swt.
Penghormatan terhadap guru merupakan suatu hal yang wajar karena pada dasarnya guru tidak membutuhkan suatu penghormatan akan tetapi secara manusiawi guru biasanya menjadi tersinggung apabila muridnya bersikap merendahkan dan tidak menghargai. Dan sebagai wujud pemuliaan dan penghormatan kepada guru, Sebagai konsekuensi sikap moral atas pengagungan dan penghormatan terhadap guru al-Zarnuji memberikan saran dan penjelasan, bahwa penghormatan tersebut berbentuk sikap kongkrit yang mengacu pada etika moral dan akhlak seorang murid terhadap gurunya dalam interaksi keseharian dan dalam bentuk materi. Al-Zarnuji mengutip syair dari Ali bin Abi Thalib:

رأيت أحق الحق حق المعلم - وأوجبه حفظاعلى كل مسلم
لقد حق أن يهدى اليه كرامة - لتعلم حرف واحد ألف درهم

"Aku tahu bahwa hak seorang guru itu harus diindahkan melebihi segala hak. Dan wajib dijaga oleh setiap Islam. Sebagai balasan memuliakan guru, amat pantaslah jika beliau diberi seribu dirham, meskipun hanya mengajarkan satu kalimat."

Posisi guru yang mengajari ilmu walaupun hanya satu huruf dalam konteks keagamaan disebut sebagai bapak spiritual, sehingga kedudukan guru sangat terhormat dan tinggi, karena dengan jasanya seorang murid dapat mencapai ketinggian spiritual dan keselamatan akhirat. Hal ini berarti hubungan tersebut adalah hubungan yang sangat dekat tidak hanya terbatas dalam kondisi dan lingkungan pendidikan secara formal, dimana guru sebagai pentransfer pengetahuan dan murid sebagai penerima, akan tertapi lebih merupakan sebuah hubungan yang memiliki ikatan moral dan emosional tinggi sebagaimana ikatan antara bapak dan anak, yang sama-sama memiliki konsekuensi sikap dalam bentuk hak dan kewajiban.
Indikator murid yang baik adalah selalu dapat menyenangkan hati sang guru dan menaruh penuh rasa hormat terhadap gurunya, mendahulukan urusan yang terkait dengan guru. Sehingga guru tidak merasa tersinggung dan sakit hati. Jadi pada dasarnya merupakan suatu kewajiban atas murid untuk dapat beritikad baik kepada guru, sebab bagaimanapun guru adalah juga bapak dari para murid, sehingga perintah dari guru merupakan suatu keharusan bagi murid untuk melaksanakannya, sebagaimana perintah dari orang tua terhadap anaknya, kecuali perintah dalam kedhaliman, bahkan haram bagi murid menyinggung perasaan dan membuat sakit hati guru, sebagaimana Allah mengharamkan kedurhakaan anak terhadap orang tuanya. Secara tegas al-Zarnuji mengatakan, "Barang siapa menyakiti hati guru, maka haramlah keberkahan ilmu dan tidak memperoleh manfaat ilmu kecuali sedikit."
Implikasi dari sikap murid yang meremehkan dan tidak dapat menaruh rasa hormat terhadap guru maupun para kerabatnya, maka digambarkan oleh al-Zarnuji dengan mengutip sebuah sya’ir, bahwa:
إن المعـلم والطـبيب كلاهــما - لاينصحان إذاهما لم يكرما
فاصبر لدائك إن جفوت طبيبها - واقنع بجهلك إن جفوت معلما
“Ketahuilah, sesungguhnya guru dan dokter, keduanya jika tidak dihormati, tentu tidak akan mau memberikan nasehat yang benar Maka terimalah dengan sabar rasa sakitmu jika kamu meremehkan doktermu. Dan terimalah kebodohanmu, jika kamu meremehkan gurumu”

Syair di atas menggambarkan, bahwa hubungan guru dan murid seperti hubungan antara dokter dan pasien, karena adanya persamaan saling membutuhkan dan saling ketergantungan. Guru dibutuhkan oleh murid karena ilmunya untuk menghilangkan kebodohan sedangkan dokter dibutuhkan oleh pasien karena nasehat dan obatnya untuk kesembuhan penyakitnya. Demikian pula dalam proses belajar mengajar dan dalam persoalan akademik, seorang guru lebih tahu disebabkan pengalaman yang lebih dibandingkan dengan murid. Sedangkan seorang dokter memang memiliki keahlian didalam mendiagnosa untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Jadi fungsi hubungan antara dokter dengan pasien adalah adanya kepercayaan dan kepatuhan murid terhadap guru dalam persoalan akademiknya, dengan mengutamakan petunjuk dan nasehat sebagai kepentingan utama.
Hubungan inilah yang kemudian pada akhir pembahasan bab ini, ditegaskan kembali oleh al-Zarnuji kepada penuntut ilmu untuk benar-benar dapat memahami posisi seorang guru bagi dirinya dalam rangka pengembangan potensi ilmiahnya serta penemuan dan pengembangan potensi diri, yang tidak mungkin berkembang tanpa adanya bimbingan dan arahan dari orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian lebih darinya, karena memang demikianlah proses pendidikan berlangsung.

http://www.komisiGRATIS.com/?id=wahyupwt" target="blank" title="Komisigratis.Com - Peluang Usaha Gratis dengan komisi Ratusan Juta Rupiah" >


http://www.komisiGRATIS.com/?id=wahyupwt" target="blank" title="Komisigratis.Com - Peluang Usaha Gratis dengan komisi Ratusan Juta Rupiah" >

http://www.komisiGRATIS.com/?id=wahyupwt" target="blank" title="Komisigratis.Com - Peluang Usaha Gratis dengan komisi Ratusan Juta Rupiah" >

http://www.komisiGRATIS.com/?id=wahyupwt" target="blank" title="Komisigratis.Com - Peluang Usaha Gratis dengan komisi Ratusan Juta Rupiah" >

a href="http://www.komisiGRATIS.com/?id=wahyupwt" target="blank" title="Komisigratis.Com - Peluang Usaha Gratis dengan komisi Ratusan Juta Rupiah" >